Gandrung Ketapian Kelod

Gandrung Ketapian, Berawal dari Wabah Penyakit

          DI Sumerta, seni tabuh, tari dan tradisi nyastra mendapat ruang yang lapang untuk tumbuh dan berkembang. Maka desa pakraman yang didukung sekitar 1.500 kepala keluarga ini memiliki seniman-seniman besar seperti Ketut Alit Arini, SST, I Wayan Beratha, I Wayan Rindi dan sederet seniman kondang di zamannya. Salah satu jenis kesenian langka, unik dan klasik yang masih mampu mempertahankan eksistensinya hingga kini adalah Gandrung Ketapian yang diusung oleh krama Banjar Ketapian Klod, Desa Adat Sumerta. Ternyata, kelahiran kesenian yang sudah berkembang sejak 1928 ini diawali dengan pergolakan yang disertai dengan peristiwa kecangkrim (menyebarnya wabah penyakit tertentu-red) di wawengkon banjar setempat.

Saat pentas di acara “Gelar Budaya Spiritual dan Kepercayaan Komunitas Adat” di Taman Budaya Bali beberapa waktu lalu, Klian Sekaa Gandrung Ketapian Klod I Wayan Rindi membenarkan bahwa Gandrung lahir dari situasi yang chaos (kekacauan-red). Ketika kekacauan itu memuncak, Jro Mangku Pura Batur menerima wangsit agar krama setempat menggelar upacara pemayuh yakni semacam upacara pembersihan untuk menetralisasi pengaruh-pengaruh negatif yang merongrong ketenteraman krama setempat. Mereka sepakat membuat kesenian Gandrung untuk kepentingan tersebut.

Musik pengiring Gandrung ini berupa gamelan rindik yang bilahnya dibuat dari tiing petung (jenis bambu berukuran besar-red) dengan palawakya dari bahan kayu pohon sukun yang dihiasi dengan ukiran warna-warni. Pemanfaatan unsur logam hanya pada instrumen cengceng yang terbuat dari kerawang. “Pada awal kemunculannya, Gandrung ditarikan seorang penari pria yang sedang remaja. Generasi pertama penari Gandrung bernama I Made Regeg yang kini sudah almarhum. Masa terus berganti, tetapi Gandrung Ketapian tak pernah hilang ditelan zaman,” papar Rindi seraya menyebutkan sejumlah nama penari Gandrung pria yang sempat berjaya di zamannya.

Pada 1978, katanya, Gandrung Ketapian mengalami proses pembaruan. Saat itu Gandrung ditarikan oleh remaja-remaja putri, sedangkan juru tabuhnya berasal dari kalangan remaja putra. Proses pergantian penari dan pemilihan calon penari baru melewati prosesi nuwur. Setelah calon-calon penari terpilih, mereka dibuatkan upacara pawintenan (penyucian-red) di balai banjar setempat. Prosesi nuwur ini tetap dipertahankan hingga saat ini. “Begitu penari itu menikah, saat itulah mereka berhenti ngayah sebagai penari Gandrung. Proses regenerasi berlangsung terus-menerus sehingga kami tetap melestarikan kesenian adiluhung warisan leluhur sampai saat ini,” katanya sambil menambahkan, Gandrung Ketapian sudah berulangkali dipentaskan di arena Pesta Kesenian Bali dan sudah sempat pentas ke luar daerah.

Bagi krama Ketapian, katanya, Gandrung merupakan kesenian yang sangat disakralkan. Pasalnya, proses kelahirannya lewat perantara wangsit. Saat itu, krama juga nunas taksu  ke Pura Petitenget. “Sampai saat ini, setiap piodalan di Pura Petitenget pragina Gandrung beserta krama ngaturang sembah sekaligus ngayah masolah di sana. Dengan kesakralannya itu, Gandrung dipercaya sebagai sarana nawur sesangi bagi masyarakat yang mengalami musibah seperti sakit maupun kapialangan (musibah-red) lainnya,” paparnya.

Di samping bersifat kesenian sakral, kata Rindi, Gandrung juga tetap memerankan diri sebagai penghibur masyarakat. Kesan Gandrung sebagai kesenian hiburan masyarakat dapat dilihat dari bentuk pementasannya yang menggunakan konsep kalangan atau arena layaknya kesenian tradisional lainnya di Bali. Dalam Gandrung juga dikenal adanya pengibing di mana penonton yang merasa dirinya bisa ikut menari bersama Gandrung seperti yang terjadi pada kesenian joged bungbung. “Perbedaannya, pengibing dalam Gandrung tidak dijawat oleh penari, tetapi murni atas keinginan sendiri,” katanya lagi.

Keunikan lainnya yang mungkin tidak ditemukan pada kesenian lainnya, katanya, masyarakat di luar anggota sekaa juga dipersilakan ikut menabuh gamelan. Penonton yang merasa bisa menabuh tidak dilarang nimbalin atau menggantikan anggota sekaa untuk menabuh. “Ini membuktikan Gandrung itu merupakan kesenian masyarakat. Di samping difungsikan sebagai sarana nawur sesangi atau pemayuh, Gandrung juga memiliki nuansa entertainment yang kental,” kata Rindi yang mengaku optimis Gandrung tetap mampu mempertahankan eksistensinya di tengah dahsyatnya gempuran seni-seni pertunjukan kontemporer/modern yang “menyerbu” Bali.(ian)

Sumber : balipost.com

by : yoga Ardana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s